Tiba-Tiba Didi Kempot

Sumber: cakrawalafm.net

Waktunya kembali ke rutinitas berangkat kerja, gumamku, kemudian dengungan lagu Didi Kempot berkumandang di ujung gang Jl Cililitan Kecil.

Jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu mobil saat itu tiba-tiba sayu mendengar suara Didi Kempot. Aku berjalan di depannya, “Oh, bakul gethuk ternyata,”

Dan memang satu gerobak kecil “gethuk lindri” dijajakan seorang bapak paruh baya. Gaya marketing yang cukup populer di kalangan bakul gethuk, nyayian lagu Jawa, utamanya sang maestro Didi Kempot.

Jujur aku tidak hafal judul lagu Didi Kempot yang seolah-olah merubah suasana menjadi suasana kampung halaman. Mengingatkan akan masa kecil, desa dan asalku sendiri, di Bantul.

Lagu yang adem tapi juga sedih, membuat suasana sayu-sayu rindu semakin terasa. Suara yang ada di belakang semakin mendekat.

“Ah sudahlah, biarkan dia lewat,”

Dan menyaliplah bakul gethuk itu melewatiku…

Menurutku lagu Didi Kempot memang indah. Terutama bagi para orang-orang yang merantau.

Tidak hanya liriknya yang penuh rasa rindu, tetapi ritme yang khas. Generasi millenial yang lahir di tahun 1990-an dan tinggal di desa di Jawa Tengah/Jogja pasti pernah dengar lagu Didi Kempot.

Kembali ke peristiwa. Bapak paruh baya itu kemudian menghilang di ujung gang, berbelok beda arah denganku di jalan lumayan lebar.

Kemudian suasana berubah.

“Roti-roti…..,”

Ah

“Roti tawar roti manis…roti-roti,” bunyi alat otomatis melalui sepeda motor.

“Makanan orang kota,” pikirku

Suara penjaja roti muncul. Karena sudah masuk jalan besar pemotor banyak yang berseliweran.

Banyak sekali, bahkan sering melewati trotoar jalan. Penjual roti pun hilang, hilang juga ingatan tentang Didi Kempot. Biar tidak hilang sepenuhnya, aku abadikan di tulisan ini.

Yang terjadi kali ini adalah motor, mobil dan bus bus besar yang memenuhi Jl Dewi Sartika. Hal yanh belum dan tidak ada di desa di Bantul sana.

Welcome to Jakarta, ketika penulis menulis kisah ini, Jakarta masih macet.

Sudahlah…aku jadi pejalan kaki saja!

Hikmah: Didi Kempot mengingatkanku akan Jogja, sudah. Itu saja di pagi ini (18/4/2018).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s